Apresiasi Puisi "Catatan Masa Kecil", Karya Gunoto Saparie
Oleh: Abdul Mukhlis (Penikmat Sastra)
Catatan Masa Kecil
(Jawa Pos, Minggu 20 Mei 2012)
Kupunguti kenangan masa kanak
pada petak-petak sawah menghijau
kuterbangkan layang-layang putih perak
pada pematang tanah basah itu
Kupunguti serpihan-serpihan masa lalu
timbul tenggelam hanyut di sungai
kukenang suara azanmu mendayu
kampung halaman permai surgawi
Kupunguti keping-keping episode itu
dari timbunan tahun-tahun kelabu
kukenang selalu suara emas kasidahmu
aku tak bisa tidur mengenangmu
Apresiasi:
- Tema : Kerinduan terhadap kenangan masa kecil dan kampung halaman
- Rasa/ feeling : Senang dan gembira
- Nada : Mempengaruhi dan mengajak
- Amanat : Mengharapkan pembaca untuk mengingat lagi akan kenangan masa kecil yang pernah terjadi dan tidak melupakan kampung halamannya masing-masing.
Puisi
Catatan Masa Kecil karya Gunoto Saparie menceritakan tentang kenangan masa
kecil di kampung halamannya. Kenangan-kenangan pada masa lalu memang sangat menyenangkan
sekaligus menghibur apabila diingat kembali. Penulis dalam puisi ini menunjukkan
kenangan masa lalunya pada saat bermain layang-layang di sawah. Dengan penuh
semangat, penulis menerbangkan layang-layangnya yang berwarna putih perak di
sawah, hal ini bukan tanpa alasan dilakukan oleh penulis. Karena angin yang
berhembus di sawah memang sangat pas sekali untuk memainkan atau menerbangkan
layang-layang. Selain itu, pemandangan yang tersaji di sawah cukup menawan,
hamparan padi yang menghijau menambah suasana menjadi penuh semangat dan sangat
mengasyikan saat memainkan layang-layangnya. Keadaan seperti ini yang
digambarkan dan disampaikan oleh penulis melalui puisinya yang berjudul Catatan
Masa Kecil ini.
Gambaran
atau kisah lain yang hendak disampaikan penulis dalam puisi ini adalah mengenai
keindahan, kereligiusan dan kedamaian di kampung halamannya dulu. Penulis lahir
di kota Kendal, kota itu memang memiliki keindahan alam yang berupa laut, persawahan
dan dataran tinggi. Tetapi yang digambarkan dan disampaikan oleh penulis dalam
puisi ini adalah persawahan, tempat dimana penulis bermain layang-layangnya.
Dibuktikan dalam larik berikut “Kupunguti kenangan masa kanak, pada petak-petak
sawah menghijau”. Sisi kereligiusan dan kedamaian mengenai kampung halaman
penulis dalam puisi ini dibuktikan dalam larik “kukenang suara azanmu mendayu,
kampung halaman permai surgawi”. Kota tempat lahir penulis memang dikenal
sebagai kota yang religius dan damai, hal ini tercermin dari slogan atau
julukan yang diusung kota Kendal, yaitu Kendal Beribadat. Sehingga penulis
tidak segan-segan mencerminkan keindahan, kereligiusan, dan kedamaian kampung
halamannya yang dituliskan dalam sajak-sajak puisinya.
Di
dalam puisi ini juga terdapat pesan tersirat mengenai kerinduan penulis akan
kenangan masa kecil yang pernah dialami dan kampung halamannya. Tetapi,
kerinduan penulis itu agaknya tidak selalu dirasakan setiap saat, hanya di
waktu tertentu saja penulis merasakan kerinduan terhadap kenangan masa lalu dan
kampung halamannya. Seperti dalam larik berikut “Kupunguti serpihan-serpihan
masa lalu, timbul tenggelam hanyut di sungai”. Di larik lain juga diungkapkan
mengenai kerinduan penulis terhadap kampung halamannya yang tidak selalu di
rasakan setiap saat. Bahkan dalam larik itu secara tersurat penulis menggambarkan
kerinduan terhadap kampung halamannya hanya pada saat malam hari menjelang
tidur saja. Kutipannya “kukenang selalu suara emas kasidahmu, aku tak bisa
tidur mengenangmu”.
Dalam
puisi ini, penulis tidak hanya menyampaikan kenangannya saat bermain
layang-layang saja, tetapi juga mengenang berbagai kenangan lain yang telah
lama terjadi dalam kehidupannya, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan.
Seperti dalam larik berikut “kupunguti keping-keping episode itu, dari timbunan
tahun-tahun kelabu”. Larik puisi “Keping-keping episode itu, dari timbunan
tahun-tahun kelabu” diinterpretasikan sebagai kenangan-kenangan lain yang telah
terjadi sekian lamanya dalam kehidupan penulis, baik yang menyenangkan maupun
menyedihkan.
Kerinduan
penulis akan masa kecil dan kampung halamannya menjadi tema dalam puisi ini.
Hal ini diperkuat dalam tiap larik-larik puisi ini yang menyiratkan kerinduan
tersebut. Perasaan yang ditampilkan dalam puisi ini adalah senang, gembira dan
rindu. Larik yang menginterpretasikan mengenai perasaan senang dan gembira
dalam puisi ini “aku tak bisa tidur mengenangmu”. Saking senang dan gembiranya
akan kenangan di kampung halamannya, penulis sampai tidak bisa tidur. Karena
merasa tertarik untuk terus mengingat kejadian-kejadian yang pernah dialaminya
pada masa lalu. Puisi ini mempunyai nada mengajak dan mempengaruhi pembaca,
agar kembali mengingat akan kenangan masa kecil dan kampung halamannya
masing-masing. Amanat yang hendak disampaikan penulis dalam puisi ini adalah
mengharapkan pembaca untuk mengingat lagi akan kenangan masa kecil yang pernah
terjadi dan tidak melupakan kampung halamannya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar